The Weeknd

 


🌃 The Weeknd: Kisah Sang Pangeran Kegelapan dari Scarborough

Kisah ini dimulai jauh dari gemerlap stadion dan lampu sorot Hollywood, di sebuah lingkungan bernama Scarborough, Toronto, Kanada. Di sanalah, pada 16 Februari 1990, Abel Makkonen Tesfaye dilahirkan.

I. Akar Etiopia dan Masa Kecil yang Sunyi

Abel tumbuh dalam lingkungan keluarga imigran Etiopia. Kedua orang tuanya, Makkonen dan Samrawit, berpisah ketika ia masih sangat kecil, sehingga ia sebagian besar dibesarkan oleh ibunya, dan yang paling berperan adalah neneknya. Bahasa pertama yang ia pelajari di rumah bukanlah Inggris, melainkan Amharic, bahasa resmi Etiopia. Budaya Etiopia, dengan musik soul yang kaya dan groove yang unik, menjadi fondasi auditori yang tanpa disadari akan membentuk seninya kelak.

Masa kecil Abel bisa dibilang jauh dari kemewahan. Ia adalah anak tunggal yang sering merasa sendirian. Ia sering menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik. Ia sangat dipengaruhi oleh genre yang luas, mulai dari hip-hop gelap seperti yang dibawakan Wu-Tang Clan, pop yang catchy dari Michael Jackson, hingga new wave Inggris seperti The Smiths. Musik menjadi pelariannya, kotak suara di mana ia bisa menemukan resonansi bagi perasaannya yang sering terasing.

II. Pemberontakan dan Kelahiran Sebuah Nama

Ketika ia tumbuh dewasa, Abel mulai memberontak. Ia meninggalkan sekolah menengah di usia 17 tahun, sebuah keputusan besar yang melambangkan kebebasannya. Ia dan seorang teman memutuskan untuk pergi begitu saja, mengambil barang-barang mereka dan tidak pernah melihat ke belakang. Momen pergi dan tidak kembali selama akhir pekan (weekend) itulah yang memberinya nama panggung ikonik: The Weeknd. Ia menghilangkan huruf 'e' karena, menurut ceritanya, sudah ada band Kanada lain bernama "The Weekend," dan ia ingin namanya unik.

Periode setelah ia meninggalkan rumah adalah masa-masa liar di lingkungan Toronto. Ia menghadapi kehidupan yang keras, penuh dengan eksperimen dan pencarian jati diri yang seringkali gelap. Pengalaman-pengalaman hedonistik, pesta, dan perasaan kesepian yang mengikutinya menjadi sumber inspirasi material yang tak pernah kering.

III. Sensasi Anonim di Era Digital

Pada tahun 2010, Abel bertemu dengan seorang produser bernama Jeremy Rose. Mereka mulai memproduksi beberapa lagu. Tanpa promosi besar, tanpa wawancara, dan tanpa menunjukkan wajahnya, Abel mengunggah beberapa lagu ke YouTube di bawah nama The Weeknd. Lagu-lagu seperti "What You Need" dan "The Morning" segera menjadi sensasi internet yang sunyi.

Sound ini adalah sesuatu yang baru: bukan R&B yang cerah dan romantis, melainkan R&B yang gelap, atmospheric, lambat, dengan lirik yang jujur dan mengganggu tentang obat-obatan, seks, dan keterasingan emosional. Ia menciptakan genre R&B Alternatif yang baru.

Pada tahun 2011, Abel mengukuhkan dominasinya di underground dengan merilis tiga mixtape gratis yang kini menjadi legenda: House of Balloons, Thursday, dan Echoes of Silence. Publik terpikat oleh misteri dan kejujuran liriknya. Ia mendapat endorsement penting dari rapper besar, Drake, yang membantunya menarik perhatian industri, dan tak lama kemudian, industri musik pun tidak bisa lagi mengabaikan "Pangeran Kegelapan" yang misterius dari Toronto ini.

IV. Perjalanan Menuju Pop dan Transformasi Ikonik

Setelah merilis album kompilasi Trilogy yang mengemas ulang mixtape tersebut, The Weeknd secara bertahap menyeberang ke arus utama. Album Beauty Behind the Madness pada tahun 2015 menjadi lompatan besarnya. Dengan lagu-lagu seperti "Can't Feel My Face," yang terang-terangan terinspirasi oleh Michael Jackson, ia menunjukkan bahwa ia bisa membuat pop yang catchy tanpa kehilangan intisari kegelapannya. Ia memenangkan Grammy pertamanya, dan ia secara resmi menjadi superstar.

Lalu, datanglah Starboy di tahun 2016. Secara visual, Abel memangkas dreadlock ikoniknya, menggantinya dengan tampilan yang lebih sleek, mahal, dan modern. Title track dan "I Feel It Coming," yang merupakan kolaborasi dengan Daft Punk, mengukuhkannya sebagai hitmaker global.

V. Puncak Synth-Pop dan Penguasaan Narasi

Namun, Abel tidak pernah puas berdiam diri di satu tempat. Pada tahun 2020, ia merilis After Hours, sebuah album yang kembali ke estetika gelap, tetapi kali ini diselimuti nostalgia synth-pop tahun 80-an yang dingin dan menawan. Dengan tampilan ikonik jaket merah dan wajah yang babak belur, Abel menciptakan narasi sinematik yang kompleks.

Album ini melahirkan hit raksasa "Blinding Lights," sebuah lagu yang memecahkan rekor streaming global dan menjadi lagu terlama dalam sejarah yang menghabiskan waktu di tangga lagu Billboard Hot 100. Abel membuktikan bahwa ia tidak hanya membuat musik; ia menciptakan pengalaman dan karakter. Puncaknya, ia tampil di panggung Super Bowl Halftime Show pada tahun 2021, memimpin show yang monumental.

Terakhir, ia merilis Dawn FM pada tahun 2022, sebuah konsep album cerdas tentang perjalanan di akhirat melalui siaran radio yang dinarasikan oleh Jim Carrey. Abel Tesfaye, sang anak dari Scarborough yang drop out dan memberontak, kini telah menjadi salah satu seniman dengan streaming terbanyak di dunia, seorang megastar yang terus-menerus mendefinisikan ulang pop dan seni dengan kegelapan yang ia kenakan sebagai mahkota.

Comments

Popular posts from this blog

Ahmad Dhani

Afgan

Bunga Citra Lestari (BCL)